13 Doa Para Nabi dalam Al-Qur’an dan Artinya

Pelajari 13 doa para nabi dalam Al-Qur’an lengkap dengan tulisan Arab, arti, sumber ayat, dan pelajaran untuk kehidupan sehari-hari.

Doa para nabi dalam Al-Qur’an memberikan tuntunan terbaik bagi umat Islam ketika memohon pertolongan kepada Allah Swt. Doa-doa tersebut mencakup permohonan ampun, keselamatan, keturunan, kesembuhan, kemudahan, serta keteguhan iman.

Pada dasarnya, doa menjadi bentuk penghambaan dan kerendahan hati seorang manusia di hadapan Allah. Melalui doa, seorang hamba mengakui keterbatasannya sekaligus menyadari bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan sempurna.

Selain menjadi sarana memohon pertolongan, doa juga mampu menenangkan hati. Bahkan, seseorang dapat memperoleh kekuatan baru ketika menyampaikan kesulitan dan harapannya kepada Allah.

Para nabi dan rasul pun senantiasa berdoa dalam berbagai keadaan. Meskipun Allah memilih mereka sebagai utusan-Nya, para nabi tetap memohon perlindungan, ampunan, petunjuk, dan pertolongan. Oleh karena itu, umat Islam dapat menjadikan doa mereka sebagai teladan.

Allah Swt. memerintahkan manusia untuk berdoa dalam Surah Ghafir ayat 60:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan bagimu.”

Ayat tersebut menunjukkan kedudukan doa yang sangat penting dalam Islam. Namun, Allah dapat menjawab permohonan seorang hamba melalui bentuk dan waktu yang berbeda. Karena itu, setiap Muslim perlu terus berdoa tanpa kehilangan kesabaran dan keyakinan.

Keutamaan Doa Para Nabi dalam Al-Qur’an

Doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur’an memiliki susunan kalimat yang singkat, tetapi mengandung makna mendalam. Setiap doa menggambarkan situasi yang pernah para nabi hadapi.

Sebagai contoh, sebagian nabi memohon ampun setelah menyadari kesalahan. Sementara itu, nabi lainnya meminta keselamatan ketika menghadapi kaum yang zalim. Ada pula nabi yang berdoa agar Allah memberikan keturunan, kesembuhan, rezeki, dan kemudahan dalam berdakwah.

Secara umum, doa para nabi memuat beberapa unsur penting, antara lain:

  • Pengakuan terhadap kebesaran Allah.
  • Kesadaran atas kelemahan manusia.
  • Permohonan ampun atas kesalahan.
  • Harapan terhadap rahmat dan pertolongan Allah.
  • Sikap tawakal setelah melakukan usaha.

Seorang Muslim tentu boleh berdoa menggunakan bahasa yang ia pahami. Meskipun demikian, doa yang berasal dari Al-Qur’an mempunyai keutamaan tersendiri. Allah telah mengabadikan doa-doa tersebut sebagai pelajaran bagi umat manusia.

Berikut kumpulan doa para nabi dalam Al-Qur’an lengkap dengan arti dan sumber ayatnya.

1. Doa Nabi Adam Memohon Ampunan

Nabi Adam a.s. dan istrinya memanjatkan doa setelah menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”

QS. Al-A‘raf: 23

Melalui doa tersebut, Nabi Adam mengajarkan keberanian dalam mengakui kesalahan. Seorang hamba tidak seharusnya mencari alasan untuk membenarkan perbuatan buruknya.

Sebaliknya, ia perlu segera bertobat dan memohon ampun kepada Allah. Dengan demikian, kesalahan dapat menjadi jalan untuk memperbaiki diri.

2. Doa Nabi Nuh Memohon Perlindungan

Nabi Nuh a.s. meminta perlindungan agar tidak memohon sesuatu yang tidak beliau ketahui hakikatnya.

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar tidak memohon sesuatu yang tidak aku ketahui hakikatnya. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmatiku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.”

QS. Hud: 47

Doa ini mengajarkan pentingnya menjaga adab ketika meminta kepada Allah. Terkadang, manusia menganggap suatu keinginan sebagai hal terbaik. Padahal, Allah lebih mengetahui akibat dan manfaat dari setiap perkara.

Doa Nabi Nuh Memohon Tempat yang Diberkahi

رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

Artinya:

“Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi. Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.”

QS. Al-Mu’minun: 29

Umat Islam dapat membaca doa ini ketika memasuki rumah, tempat tinggal, atau lingkungan baru. Selain itu, doa tersebut mengajarkan agar seseorang tidak hanya mencari tempat yang nyaman, tetapi juga mengharapkan keberkahan.

Doa Nabi Nuh untuk Orang Beriman

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Artinya:

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, orang yang memasuki rumahku dengan beriman, serta seluruh laki-laki dan perempuan yang beriman.”

QS. Nuh: 28

Melalui doa ini, Nabi Nuh tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Beliau juga mendoakan kedua orang tua dan seluruh orang beriman. Oleh sebab itu, doa ini mengajarkan kepedulian terhadap sesama Muslim.

3. Doa Nabi Ibrahim agar Amal Diterima

Setelah membangun fondasi Ka’bah bersama Nabi Ismail a.s., Nabi Ibrahim a.s. berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya:

“Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

QS. Al-Baqarah: 127

Nabi Ibrahim tidak merasa cukup hanya dengan menyelesaikan amal besar. Sebaliknya, beliau tetap meminta agar Allah menerima amal tersebut.

Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga kerendahan hati setelah beribadah. Ia tidak boleh merasa paling baik atau yakin bahwa amalnya pasti diterima.

Doa Nabi Ibrahim untuk Keturunan

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

Artinya:

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu. Jadikan pula keturunan kami sebagai umat yang berserah diri kepada-Mu.”

QS. Al-Baqarah: 128

Doa tersebut mengajarkan bahwa orang tua perlu memperhatikan kehidupan spiritual anak. Kesuksesan dunia memang penting. Namun, ketaatan kepada Allah memiliki nilai yang lebih utama.

Doa agar Istiqamah Mendirikan Salat

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Artinya:

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku sebagai orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.”

QS. Ibrahim: 40

Orang tua dapat membaca doa ini agar anak-anaknya menjaga salat. Selain berdoa, mereka juga perlu memberikan contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Doa Memohon Keturunan Saleh

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya:

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang termasuk orang-orang saleh.”

QS. Ash-Shaffat: 100

Pasangan yang mengharapkan keturunan dapat mengamalkan doa Nabi Ibrahim ini. Akan tetapi, mereka juga perlu mengiringinya dengan ikhtiar dan kesabaran.

4. Tawakal Nabi Hud kepada Allah

Ketika menghadapi penolakan kaumnya, Nabi Hud a.s. menunjukkan keyakinan yang kuat kepada Allah.

إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا

Artinya:

“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada satu makhluk bergerak pun melainkan Dia menguasainya.”

QS. Hud: 56

Ayat tersebut memperlihatkan bahwa keyakinan kepada Allah melahirkan keberanian. Meskipun demikian, tawakal tidak berarti meninggalkan usaha.

Sebaliknya, seorang Muslim harus berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Setelah itu, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah.

5. Doa Nabi Luth Memohon Keselamatan

Nabi Luth a.s. memohon agar Allah menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari perbuatan buruk kaumnya.

رَبِّ نَجِّنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُونَ

Artinya:

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari perbuatan yang mereka lakukan.”

QS. Asy-Syu‘ara: 169

Selain itu, beliau memohon pertolongan melalui doa berikut:

رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ

Artinya:

“Ya Tuhanku, tolonglah aku dalam menghadapi kaum yang berbuat kerusakan.”

QS. Al-‘Ankabut: 30

Doa Nabi Luth mengingatkan setiap Muslim agar menjaga keluarganya dari lingkungan yang buruk. Dalam hal ini, perlindungan tidak cukup melalui doa saja. Orang tua juga perlu menanamkan nilai agama dan memilih lingkungan yang baik.

6. Doa Nabi Yusuf agar Wafat dalam Keadaan Muslim

Setelah melewati berbagai ujian, Nabi Yusuf a.s. memohon akhir kehidupan yang baik.

فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Artinya:

“Wahai Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku bersama orang-orang saleh.”

QS. Yusuf: 101

Meskipun telah memperoleh kedudukan tinggi, Nabi Yusuf tetap memikirkan keselamatan akhirat. Dengan demikian, doa ini mengajarkan bahwa keberhasilan dunia bukanlah tujuan terakhir.

Seorang Muslim perlu menjaga iman hingga akhir hayat. Sebab, husnul khatimah menjadi salah satu harapan terbesar orang beriman.

7. Doa Nabi Syuaib Memohon Keputusan yang Benar

Nabi Syuaib a.s. menyerahkan perselisihan antara dirinya dan kaumnya kepada Allah.

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

Artinya:

“Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan benar. Engkaulah sebaik-baik pemberi keputusan.”

QS. Al-A‘raf: 89

Doa tersebut mengajarkan pentingnya mencari penyelesaian yang adil. Ketika menghadapi konflik, seorang Muslim tidak boleh menggunakan kebohongan atau kezaliman.

Sebaliknya, ia perlu berusaha menyelesaikan masalah berdasarkan kebenaran. Selanjutnya, ia menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

8. Doa Nabi Musa Memohon Kemudahan

Saat menerima perintah untuk berdakwah kepada Fir‘aun, Nabi Musa a.s. memanjatkan doa:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Artinya:

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.”

QS. Thaha: 25–28

Umat Islam sering membaca doa ini sebelum belajar, mengajar, atau berbicara di depan umum. Selain itu, doa Nabi Musa juga sesuai untuk seseorang yang akan menjalankan tugas berat.

Doa Nabi Musa Memohon Ampunan

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي

Artinya:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri. Oleh karena itu, ampunilah aku.”

QS. Al-Qashash: 16

Doa ini memperlihatkan sikap jujur Nabi Musa ketika menyadari kesalahan. Beliau segera memohon ampun tanpa menyalahkan orang lain.

Doa Nabi Musa Memohon Kebaikan

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Artinya:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan setiap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”

QS. Al-Qashash: 24

Seseorang dapat membaca doa tersebut ketika membutuhkan rezeki, pekerjaan, pertolongan, atau jalan keluar. Namun, ia tetap harus melakukan usaha yang halal dan sungguh-sungguh.

9. Doa Nabi Ayyub ketika Sakit

Nabi Ayyub a.s. menghadapi penyakit dan ujian yang berat. Walaupun demikian, beliau tetap mengadu kepada Allah dengan bahasa yang santun.

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Artinya:

“Sesungguhnya kesulitan telah menimpaku. Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

QS. Al-Anbiya: 83

Doa Nabi Ayyub dapat menemani seseorang ketika sakit atau menghadapi kesulitan. Selain memohon kesembuhan, doa ini juga mengajarkan kesabaran dan keyakinan terhadap kasih sayang Allah.

10. Doa Nabi Sulaiman agar Pandai Bersyukur

Allah memberikan kerajaan dan berbagai nikmat besar kepada Nabi Sulaiman a.s. Namun, nikmat tersebut tidak membuat beliau lupa diri.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ

Artinya:

“Ya Tuhanku, berilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku. Bimbinglah aku agar mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai.”

QS. An-Naml: 19

Doa tersebut menunjukkan bahwa kemampuan bersyukur juga memerlukan pertolongan Allah. Oleh karena itu, seorang Muslim sebaiknya tidak hanya meminta tambahan nikmat.

Lebih dari itu, ia perlu memohon kemampuan untuk menggunakan nikmat dalam kebaikan.

11. Doa Nabi Yunus dalam Kesulitan

Ketika berada di dalam perut ikan, Nabi Yunus a.s. membaca doa berikut:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya:

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

QS. Al-Anbiya: 87

Doa Nabi Yunus memuat tiga unsur utama. Pertama, beliau mengakui keesaan Allah. Kedua, beliau menyucikan Allah dari segala kekurangan. Terakhir, Nabi Yunus mengakui kesalahannya.

Karena kandungannya sangat lengkap, doa ini baik dibaca ketika menghadapi kesulitan. Selain itu, seorang Muslim dapat mengamalkannya saat memohon ampun kepada Allah.

12. Doa Nabi Zakaria Memohon Keturunan

Nabi Zakaria a.s. memohon keturunan yang baik meskipun telah berusia lanjut.

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Artinya:

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”

QS. Ali ‘Imran: 38

Dalam ayat lain, beliau juga berdoa:

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

Artinya:

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkanku hidup seorang diri tanpa keturunan. Engkaulah sebaik-baik pewaris.”

QS. Al-Anbiya: 89

Kisah Nabi Zakaria memberikan harapan kepada setiap orang yang belum memperoleh keturunan. Walaupun keadaan terlihat sulit, seorang hamba tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.

13. Pengaduan Nabi Ya‘qub kepada Allah

Nabi Ya‘qub a.s. mengalami kesedihan mendalam ketika berpisah dengan Nabi Yusuf. Namun, beliau tetap menjaga harapan kepada Allah.

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui.”

QS. Yusuf: 86

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kesedihan bukanlah tanda lemahnya iman. Seseorang boleh menangis dan merasakan duka.

Namun, ia tidak boleh kehilangan harapan. Seperti Nabi Ya‘qub, seorang Muslim dapat mengadukan kesedihannya kepada Allah.

Cara Mengamalkan Doa Para Nabi dalam Kehidupan Sehari-hari

Umat Islam dapat membaca doa para nabi dalam Al-Qur’an sesuai dengan keadaan yang mereka hadapi. Misalnya, seseorang dapat membaca doa Nabi Musa sebelum belajar atau berbicara di depan umum.

Sementara itu, orang yang sedang sakit dapat membaca doa Nabi Ayyub. Pasangan yang mengharapkan anak dapat mengamalkan doa Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria.

Agar doa semakin bermakna, lakukan beberapa langkah berikut:

  1. Pahami arti doa yang dibaca.
  2. Bacalah doa dengan hati yang khusyuk.
  3. Awali doa dengan memuji Allah.
  4. Iringi permohonan dengan usaha yang sungguh-sungguh.
  5. Hindari sikap tergesa-gesa dalam menunggu jawaban.
  6. Tetap berprasangka baik kepada Allah.
  7. Pilih waktu-waktu utama untuk berdoa.

Pada akhirnya, doa tidak menggantikan usaha. Sebaliknya, doa menyempurnakan ikhtiar dan menguatkan hati saat menunggu hasil.

Pelajaran dari Doa Para Nabi

Setiap doa para nabi dalam Al-Qur’an membawa pelajaran yang berbeda. Nabi Adam mengajarkan keberanian mengakui kesalahan. Selanjutnya, Nabi Nuh menunjukkan pentingnya memohon perlindungan dan ampunan.

Nabi Ibrahim mengajarkan kepedulian terhadap keturunan. Di sisi lain, Nabi Musa memperlihatkan pentingnya meminta kemudahan sebelum menjalankan tugas besar.

Kemudian, Nabi Ayyub memberi teladan tentang kesabaran. Nabi Yunus mengajarkan pertobatan dalam situasi sulit. Sementara itu, Nabi Sulaiman memperlihatkan pentingnya rasa syukur.

Nabi Yusuf mengingatkan umat Islam agar mengharapkan akhir kehidupan yang baik. Adapun Nabi Ya‘qub menunjukkan bahwa kesedihan tidak boleh menghilangkan harapan kepada Allah.

Penutup

Doa para nabi dalam Al-Qur’an memberikan tuntunan berharga bagi setiap Muslim. Doa-doa tersebut mencakup berbagai keadaan, mulai dari kesulitan, penyakit, kesedihan, kebutuhan rezeki, hingga harapan memperoleh keturunan.

Namun, seorang Muslim tidak seharusnya hanya melafalkan doa tanpa memahami maknanya. Sebaliknya, ia perlu menghayati setiap permohonan dan menerapkannya dalam kehidupan.

Dengan mempelajari doa para nabi, seseorang dapat memahami arti tawakal, kesabaran, rasa syukur, pertobatan, dan keyakinan kepada Allah. Oleh karena itu, umat Islam sebaiknya menghafal serta mengamalkan doa-doa tersebut secara rutin.

Sumber rujukan utama: NU Online, “Doa-Doa Para Nabi yang Diabadikan dalam Al-Qur’an.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
✍️ Punya Tulisan yang Layak Dibaca?

Jadilah bagian dari kontributor FabizCendikia.com dan sebarkan gagasan yang mencerahkan kepada lebih banyak pembaca.

Kontributor Lain Kali Kirim Tulisan